Malam
itu kian larut, udara semakin dingin dan kawasan disekitaran taman putro phang
semakin sunyi, dan nyanyian jangkrik jankrik pun semakin nyaring di
dengar, tetapi ikan hias yang dijual masih belum terjual habis, pak pon pun
merogoh dompetnya dan menemukan sedikit lembar uang.
Baru
saja ia hendak membereskan perlengkapan daggangannya, tiba-tiba handpone
berbunyi dan ia mendapat kabar kalau dek gam anak sulung masuk rumah sakit dan
harus dirawat inap karena terserang penyakit demam berdarah.
Setelah
semua barang daggangannya selesai dikemas pak pon segera menghidupkan becak
barangnya tetapi tiba-tiba ban becak barang yang pak pon bawak mendadak
meletus, pak pon segera meminggirkan becak barangnya dan menitipnya di salah
satu pemilik toko disekitran tempat ban bencaknya meletus, karena tidak ada waktu
untuk memperbaikinya sementara itu dia harus segera menegok anaknya di rumah
sakit, segera ia memanggil becak yang lewat dan sekali lagi ia menghitung
kembali uangnya setelah di potong becak karena ia harus membiayai perwatan
anaknya dek gam yang masuk rumah sakit.
Sesampai
dirumah sakit pak pon sgera melihat
anaknya yang sedang terbaring lemah dengan selang inpus di tangannya.Tak lama
kemudian ia harus kemali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan dirumah
sakit.,Setiba dirumah udara semakin
dingin. ketika pak pon ingin membuka
pintu terdengar suara kecil dari depan dan terdengar sangat memilukan.
“Pak..pak..
tolong saya, saya belum makan dari tadi pagi” ujar sauara itu memelas, ternyata
pemiliki suara itu adalah seorang anak lelaki yang berusia sekitar 13 tahun,
baju nya lusuh, kumal, dan dekil, mengundang kasihan.
“ saya
tidak punya makanan, apa lagi uang karena anak saya masuk rumah sakit, tetapi
kalau kamu mau ikan hias ini akan saya beri seekor, kalau kamu mau ambillah “
ujar pak pon.
“Ikan
hias kan enggak bisa dimakan pak”
“ bisa
kamu jual dan insyaallah kamu akan dapat uang”
Anak itu
nampak ragu, tetapi akhirnya anak itu mengambil ikan hias itu dan langsung
pergi.
Dua
puluh tahun kemudian, pak pon sudah melupakan kejadiann itu,
Pada
suatu hari pak pon pulang lebih awal dari biasanya. Ketika ditikungan jalan menuju
rumahnya, ia dibuat heran dan kaget, tampak sebuah mobil bagus berwarna gelap
licin dan mewah terpakir tepat didepan
rumahnya.
“ wah
bagus sekali mobil itu, tapi siapa pemiliki mobil itu ?” tanya pak pon dalam
hati. Seingat pak pon tidak ada stupun saudara dan kerabatnya yang memiliki
mobil mewah seperti itu.
“ ayah,
dicari dengan kawan lama ayah,” seru istrinya saat melihat pak on sampai
dirumah.
Diruang
tamu , namak seorang anak muda, yang namak gagah dan tampan dipadu dengan jas
mewah yang ia kenakan. Tetapi pak pon sama sekali tidak mengenal anak muda
tersebut, pak pon berusaha mengenalnya tetapi masih belum menginggatnya.
“ mungkin
bapak udah lupa sama saya,” ujar pemuda itu sambil senyum-senyum.
“Tapi
mungkin bapak akan kenal dengan ikan hias ini,” ujar pemuda itu sambil memegang
sekantong ikan hias yang berisikan air.
“maaf
saya juga belum mengenal kamu” kata pak pon
“ hmmm
baik lah,” akhirnya pemuda itu menyerah. “Memeang pak pertemuan kita dulu
sangat singkat sekali dan sudah sangat lama. Dulu waktu saya masih kecil saya
seorang anak jalanan yang miskin, dan tidak punya orang tua karena kejadian
tsunami yang lalu telah meregut nyawa orang tua dan saudara saudara kandung
saya. Suatu malam saya sangat kelaparan, dan bapak memberikan saya seekor ikan
hias dan atas saran bapak ikan hias itu saya jual. Tidak saya sangka
ikan hias itu laku terjual. Sebagian uangnya saya menggunakan untuk membeli
roti dan sisanya saya gunakan untuk modal. Sejak itu saya membuka usaha ikan
hias kecil kecilan. Dan ternyata usaha saya berkembang hinggan bisa mendirikan
kios kecil. Sekarang saya sudah punya toko, rumah dan tanah sendiri tentu hal
ini berkat ikan mas yang bapak berikan kepada saya waktu dulu. Dengan seekor
ikan mas yang membawa berkah itu dapat menjadikan
seorang anak jalanan sukses, tentu ini berkat
bapak,” ujar pemuda itu panjang lebar.
Pak pon
tersenyum mendengarnya. Sekarang ia sudah ingat.ternyata pemberian dia telah
merubah hidup seseorang.
Dipegang tangan anak muda tersebut sambil
berkata serius,
“Nak
semua ini karunia Allah dan Allah menolong kamu melalui bapak , dan tanpa
semangat dan usaha, dan kerja keras kamu
ikan hias ini tidak berarti apa apa.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar