Sabtu, 14 Maret 2015

Ikan Hias Membawa Berkah




Malam itu kian larut, udara semakin dingin dan kawasan disekitaran taman putro phang semakin  sunyi, dan nyanyian  jangkrik jankrik pun semakin nyaring di dengar, tetapi ikan hias yang dijual masih belum terjual habis, pak pon pun merogoh dompetnya dan menemukan sedikit lembar uang.
Baru saja ia hendak membereskan perlengkapan daggangannya, tiba-tiba handpone berbunyi dan ia mendapat kabar kalau dek gam anak sulung masuk rumah sakit dan harus dirawat inap karena terserang penyakit demam berdarah.
Setelah semua barang daggangannya selesai dikemas pak pon segera menghidupkan becak barangnya tetapi tiba-tiba ban becak barang yang pak pon bawak mendadak meletus, pak pon segera meminggirkan becak barangnya dan menitipnya di salah satu pemilik toko disekitran tempat ban bencaknya meletus, karena tidak ada waktu untuk memperbaikinya sementara itu dia harus segera menegok anaknya di rumah sakit, segera ia memanggil becak yang lewat dan sekali lagi ia menghitung kembali uangnya setelah di potong becak karena ia harus membiayai perwatan anaknya dek gam yang masuk rumah sakit.
Sesampai dirumah sakit pak pon sgera  melihat anaknya yang sedang terbaring lemah dengan selang inpus di tangannya.Tak lama kemudian ia harus kemali ke rumah untuk mengambil beberapa keperluan dirumah sakit.,Setiba dirumah udara  semakin dingin. ketika  pak pon ingin membuka pintu terdengar suara kecil dari depan dan terdengar sangat memilukan.

“Pak..pak.. tolong saya, saya belum makan dari tadi pagi” ujar sauara itu memelas, ternyata pemiliki suara itu adalah seorang anak lelaki yang berusia sekitar 13 tahun, baju nya lusuh, kumal, dan dekil, mengundang kasihan.

“ saya tidak punya makanan, apa lagi uang karena anak saya masuk rumah sakit, tetapi kalau kamu mau ikan hias ini akan saya beri seekor, kalau kamu mau ambillah “ ujar pak pon.

“Ikan hias kan enggak bisa dimakan pak”
“ bisa kamu jual dan insyaallah kamu akan dapat uang”
Anak itu nampak ragu, tetapi akhirnya anak itu mengambil ikan hias itu dan langsung pergi.
Dua puluh tahun kemudian, pak pon sudah melupakan kejadiann itu,
Pada suatu hari pak pon pulang lebih awal dari biasanya. Ketika ditikungan jalan menuju rumahnya, ia dibuat heran dan kaget, tampak sebuah mobil bagus berwarna gelap licin dan mewah terpakir  tepat didepan rumahnya.

“ wah bagus sekali mobil itu, tapi siapa pemiliki mobil itu ?” tanya pak pon dalam hati. Seingat pak pon tidak ada stupun saudara dan kerabatnya yang memiliki mobil mewah seperti itu.

“ ayah, dicari dengan kawan lama ayah,” seru istrinya saat melihat pak on sampai dirumah.
Diruang tamu , namak seorang anak muda, yang namak gagah dan tampan dipadu dengan jas mewah yang ia kenakan. Tetapi pak pon sama sekali tidak mengenal anak muda tersebut, pak pon berusaha mengenalnya tetapi masih belum menginggatnya.

“ mungkin bapak udah lupa sama saya,” ujar pemuda itu sambil senyum-senyum.
“Tapi mungkin bapak akan kenal dengan ikan hias ini,” ujar pemuda itu sambil memegang sekantong ikan hias yang berisikan air.
“maaf saya juga belum mengenal kamu” kata pak pon
“ hmmm baik lah,” akhirnya pemuda itu menyerah. “Memeang pak pertemuan kita dulu sangat singkat sekali dan sudah sangat lama. Dulu waktu saya masih kecil saya seorang anak jalanan yang miskin, dan tidak punya orang tua karena kejadian tsunami yang lalu telah meregut nyawa orang tua dan saudara saudara kandung saya. Suatu malam saya sangat kelaparan, dan bapak memberikan saya seekor ikan hias  dan atas saran bapak  ikan hias itu saya jual. Tidak saya sangka ikan hias itu laku terjual. Sebagian uangnya saya menggunakan untuk membeli roti dan sisanya saya gunakan untuk modal. Sejak itu saya membuka usaha ikan hias kecil kecilan. Dan ternyata usaha saya berkembang hinggan bisa mendirikan kios kecil. Sekarang saya sudah punya toko, rumah dan tanah sendiri tentu hal ini berkat ikan mas yang bapak berikan kepada saya waktu dulu. Dengan seekor ikan mas yang membawa berkah itu  dapat menjadikan seorang anak jalanan sukses,  tentu ini berkat bapak,” ujar pemuda itu panjang lebar.

Pak pon tersenyum mendengarnya. Sekarang ia sudah ingat.ternyata pemberian dia telah merubah hidup seseorang.
 Dipegang tangan anak muda tersebut sambil berkata serius,
“Nak semua ini karunia  Allah dan Allah  menolong kamu melalui bapak , dan tanpa semangat dan usaha,  dan kerja keras kamu ikan hias ini tidak berarti apa apa.”